Dede Candra, Novelis Surabaya yang Sukses Bisnis di Taiwan

Siapa lagi yang bakal menyusul?
Dede Chandra on the Jawa Pos, Sep 9, 2006Writeanovel

Semangat tinggi terlihat di wajah Dede
Candra. Lajang 30 tahun itu seperti tak kenal lelah. Selama tiga minggu
"mudik"-nya di kampung halaman, kegiatan Dede terbilang cukup padat.
Selain mengurus bisnis, dia harus mengagendakan launching novelnya yang
baru diterbitkan: Aku Terjebak di Taipei City.

"Yah, mumpung
balik Surabaya, saya bermaksud me-launching novel perdana saya Sabtu
(9/9) malam nanti," kata Dede yang ditemui di rumahnya, kawasan elite
Wisata Bukit Mas, Wiyung.

Dia baru menulis satu novel ini.
Minimal yang sudah diterbitkan dan beredar di pasaran. Yang hebat,
meski baru pertama, novel mungil tersebut langsung ludes.

Ya,
sebenarnya novel Dede sudah terbit awal Agustus lalu. Tapi, masih
beredar di Taiwan. "Dalam dua minggu novel saya langsung habis di
sana," tutur pengusaha muda kelahiran 4 Desember 1976 ini.

Lho,
siapa yang beli? Menurut dia, pembelinya orang Indonesia di Taiwan.
Umumnya orang di perantauan, warga Indonesia di Taiwan pun dihinggapi
rasa kangen dengan segala hal yang berbau tanah air. Maka, tak heran
novel Dede langsung diserbu.

"Cetakan pertama seribu eksemplar
tak tersisa. Maka, saya langsung kontak penerbit Ombak Jogja untuk
mencetak lagi. Nah, cetakan kedua ini yang akan saya luncurkan Sabtu
nanti (malam ini, Red)," jelas pemuda ramah ini.

Dede mengaku
semula tidak pernah berpikir akan menulis sebuah karya sastra berbentuk
novel. Latar belakang aktivitasnya jarang bersinggungan langsung dengan
dunia sastra, meskipun dia mengaku senang membaca novel karya
penulis-penulis besar. Salah satu yang dikagumi adalah karya-karya
Pramoedya Ananta Toer.

Lalu, dari mana ide menulis novel itu
muncul? Dede bercerita, suatu hari dirinya membaca berita di sebuah
media yang mengabarkan keprihatinan sastrawan kesayangannya, Pramoedya,
terhadap sedikitnya penulis muda. Entah bagaimana, berita itu terus
menghantui pikiran Dede. Dia merasa tersinggung sekaligus terlecut
untuk mewujudkan impian Pram itu. Karena itu, tak lama kemudian, dia
mulai mengarang.

"Saya semula tidak terpikir kalau saya bisa
menulis novel. Tapi, ketika saya coba, ternyata saya bisa
melakukannya," ungkap alumnus Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Jawa
Timur tersebut.

Begitu ide cerita didapat, sejak itu pikirannya
tumpah bagai air bah. Hebatnya, Dede mampu menyelesaikan novel setebal
256 halaman itu hanya dalam sebulan.

Dengan waktu yang
sesingkat itu, dari mana Dede mendapatkan ide? Tampaknya, ide tersebut
sudah lama mendekam di benaknya. Bahkan sejak masih SMA. Apa itu? "Saya
ingin menghapus perbedaan yang berbasis SARA di Indonesia," ujar anak
kedua di antara empat bersaudara pasangan Djiekin Tjandra-Ratna
Handayani tersebut.

Ide itu muncul karena dia sering melihat
konflik pecah hanya karena perbedaan kulit, agama, atau keyakinan.
Selain itu, pandangan miring tentang warga keturunan yang lahir dan
berjuang di Indonesia. Belum lagi perlakuan yang diskriminatif warga
keturunan ketika berurusan dengan birokrasi.

Dede juga prihatin
atas kondisi bangsa kaya ini yang rapuh dan sering terjadi perpecahan
hanya karena masalah sepele. Di Taipei, dia sering mendengar kabar
tentang Indonesia yang hanya berisi korupsi, perang antarsuku, teroris,
dan hal-hal negatif lainnya. "Kenapa keragaman justru menjadi masalah
pelik di negeri ini?" katanya.

Dorongan "aneh" Dede itu mulai
diwujudkan ketika dia lulus SMAK Stella Maris pada 1994. Yakni, dia
masuk di perguruan tinggi yang selama ini hanya diminati warga pribumi.
Ya, Dede akhirnya diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian UPN
"Veteran" Jawa Timur. Saat itu, di antara 160 mahasiswa baru di
fakultas itu, dialah satu-satunya mahasiswa keturunan Tionghoa.

Dia
sadar, tantangan berat bakal menghadang dirinya. Terutama stigma
sebagai warga Tionghoa. Tapi, tekad Dede sudah bulat, sehingga risiko
sebagai mahasiswa "asing" siap dihadapinya.

Semua aral itu
pun dihadapi dengan gigih hingga dia akhirnya bisa bergaul dengan
teman-temannya secara wajar setelah memasuki semester kedua. Bahkan,
sejak itu, Dede bersama kawan-kawan "pribumi"-nya membentuk Komunitas
Pelangi. Komunitas tersebut merupakan sekumpulan mahasiswa yang
mempunyai latar belakang agama, budaya, suku, tingkat sosial yang
berbeda.

"Di komunitas itu kami kembangkan rasa solidaritas,
toleransi, dan persahabatan yang didasari prinsip kemanusiaan. Dengan
demikian, perbedaan itu bukan sebuah persoalan. Justru merupakan berkat
yang harus disyukuri," papar finalis mahasiswa keren dan berprestasi
se-Jawa Timur 1998 itu. "Yang penting harus ada perasaan saling
mengerti dan menghargai," tambahnya.

Kisahnya memberontak
dari keterkungkungan perbedaan etnis itulah yang kemudian dituangkan
dalam novel tersebut. Menurut dia, keharmonisan dapat terbentuk
sekalipun dalam perbedaan dan keanekaragaman. "Bagaimana bangsa ini
bisa maju kalau tidak kompak dan saling menghargai?" tanya Dede.

Novel itu juga bagian dari suara hati warga keturunan Tionghoa yang
selama ini dimarginalkan. Padahal, mereka juga mencintai Indonesia
sebagai negaranya.

Setelah novel itu terbit, Dede sebenarnya
ingin sekali menghadiahkan karyanya kepada Pramoedya. "Tapi beliau
keburu meninggal sebelum melihat karya saya ini," tuturnya.

Sekalipun bukunya sukses di pasaran, Dede tetap konsen menjalankan
bisnisnya mengurus restoran dan minimarket-nya di Taipei City, Taiwan.
Aktivitas menulisnya bukan untuk profit semata. Tetapi sebagai bentuk
perjuangannya dalam mempromosikan Indonesia.

Dalam waktu
dekat, novelnya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.
Selanjutnya, ke dalam bahasa Inggris. "Saya bangga menjadi warga
Indonesia. Karena itu, saya ingin terus mempromosikan Indonesia lewat
karya ini," tandasnya. (*)

Leave a Reply